Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Siswi Cantik Yang Pintar dan Rajin

Written By Unknown on Kamis, 31 Oktober 2013 | 07.15

Banda Aceh - Dari sekian banyaknya siswa-siswi Sekolah Madrasah Aliyah Negeri  (MAN) Kuta Baro, ada seorang siswi diantaranya yang merupakan siswi berprestasi di sekolah tersebut. Bukan saja memiliki wajah yang cantik dan senyum manisnya, tetapi juga dirinya merupakan wanita yang memiliki hobi Menyanyi, mengaji dan rajin membantu orang tuanya.

 

Siswi tersebut ialah Nur Devi Safitri siswi kelas II. Saat ditemui Kabaracehonline dikediamannya, gadis remaja ini terlihat begitu sopan dan ramah menceritakan seputar prestasi yang telah ia dapat selama menimba ilmu di MAN Kuta Baro. Kab Aceh besar.

Nur Devi Safitri merupakan putri tercinta dari  pasangan M.Nur  dan Dewi marlianti  ini memiliki cita-cita ingin menjadi seorang penyanyi dan artis perfilman. “Saya sangat suka dengan segala hal yang bersifat musik dan dunia perfilman saya ingin sekali dapat terlibat di beberapa film Aceh dan lainnya.” ungkap gadis berkulit putih tersebut sambil tersenyum.

Nur Devi Safitri yang akrab disapa Devi juga menambahkan bahwa dirinya sangat menyukai mengaji, dan belajar dengan sungguh-sungguh, selama bisa menimbah ilmu di MAN Kuta Baro saya akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk dapat mencapai cita-cita yang saya impikan.


Saat ditanya mengenai kesibukannya Devi Menjelaskan “saat ini kesibukan Devi saat pulang dari sekolah, membantu membersihkan rumah lalu membantu mama yang memiliki usaha rumah makan, sambari membaca buku pelajaran di sekolah saat ada waktu-waktu luang. Jadi sambil membantu kerjaan mama, saya juga tidak lupa untuk memanfaatkan waktu luang sambil belajar dan dimalam harinya Devi juga aktif mengikuti pengajian di meunasah guna memperdalam ilmu agama yang selalu menjadi bekal tuntunan kehidupan disepanjang hari. Ungkapnya. (Adit)

Sebut Wartawan Calon Penghuni Neraka, Rektor UIT Dilapor ke Polisi

Written By Unknown on Jumat, 16 Agustus 2013 | 04.52

Rektor Universitas Islam Tamiang (UIT) Aceh Tamiang, Muzakir Samidan SH MH, Kamis (15/8) dilaporkan sejumlah wartawan ke Polres Langsa atas dugaan kasus pencemaran nama baik. Laporan pengaduan para "kuli tinta" itu tertuang dalam Surat Tanda Bukti Penerimaan Laporan Polisi (STPL) No Pol LP/236/VIII/2013/Aceh/Res Langsa.

Ketua PWI Perwakilan Aceh Timur, Agusni AH dalam siaran persnya kepada wartawan mengatakan, untuk menghadapi dugaan kasus tersebut PWI Aceh Timur dan Aceh siap menyediakan tim pengacara.

Dugaan kasus pencemaran nama baik tersebut terjadi saat khatib salat Idul Fitri 1434 H di Masjid Quba Gampong Sidorejo, Langsa Lama, Kota Langsa menyatakan bahwa wartawan orang-orang yang bakal masuk neraka.

Menurutnya, pernyataan khatib tidak saja melukai perasaan insan pers, tapi juga menyalahi kaidah-kaidah agama dan bisa 'membunuh' demokrasi. Karena sesuai UU No 40 Tahun 1969 tentang pokok pers.

Negara menjamin profesi wartawan. Bahkan, pers juga diletakkan sebagai pilar keempat setelah, eksekutif, legislatif dan yudikatif. Maka dari itu, di sinilah keberadaan pers yang harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua pihak.

Sementara itu Wakil Ketua I Majelis Pemusyawaratan Ulama (MPU) Kota Langsa, Dr H Zulkarnain, MA yang juga doktor dalam bidang Hukum Islam dan spesial Hadits Ahkam dan Akademisi STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa mengungkapkan, menurut Ilmu Musthalahul Hadits, hadits tentang Ghibah itu pandangannya umum dan menyangkut behaviour dan attitude tingkah laku dan sikap, jadi tidak ada kaitannya dengan profesi apapun, apalagi tendensius kepada jenis profesi tertentu.

Menurutnya apa yang disampaikan Rektor Universitas Islam Tamiang (UIT) Aceh Tamiang, Muzakir Samidan, SH, MH, saat bertindak sebagai khatib shalat Idul Fitri 1434 H di Masjid Quba Gampong Sidorejo, Langsa Lama yang memvonis profesi wartawan sebagai penghuni neraka.

Untuk itu, terang Zulkarnain, diharapkan berhati-hatilah menyampaikan hadits jika tidak paham ilmu 'Tahamul wal Ada' karena dapat mengakibatkan kesalahan yang dapat menyesatkan banyak orang. Tidak ada satupun matan hadits yang memojokan profesi wartawan, apalagi wartawan itu mengemban empat fungsi kemuliaan umat, yaitu Educate (mendidik), Empower (memberdayakan), Enlightent(mencerahkan) dan Agent of Change (agen perubahan) bagi umat, jadi profesi wartawan itu sangat mulia.


Diakhir pernyataanya, Zulkarnain meminta agar semua pihak, dalam berdakwah, ceramah dan khutbah menerapkan penggunaan bahasa yang santun dan tidak tedensius. Ajaklah orang berbuat baik dengan cara-cara yang baik. (*)

Visioner Dari Timur Rektor Unsyiah 2013-2017

Written By Unknown on Selasa, 30 Juli 2013 | 10.00

Lelaki berumur setengah abad ini tampak sumringah. Senyum yang tersungging dari raut wajahnya itu alami. Raut wajahnya selalu bersahabat, walau terhadap orang yang belum ia kenal sekalipun. Dalam dirinya ada segudang talenta. Enerjik, piawai, mandiri, suka bergaul serta visioner dalam hidupnya. Pria ini bernama Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Rektor Unsyiah.

Berbicara kampus dan mahasiswa Unsyiah di Darussalam, Banda Aceh sekarang ini, tentu familiar dengan sosok seorang Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, yang berpenampilan sederhana namun selalu rapi, menggambarkan tipikal lelaki ini apa adanya. Segudang prestasi akademik lokal dan Internasional dari Negeri Sakura Jepang berhasil didapat oleh Samsul, ketika menimba ilmu disana, Samsul juga merupakan alumni di fakultas teknik mesin Unsyiah jebolan 1987.

Tidak hanya jenius kala ia menjadi murid, Samsul juga berhasil sebagai Dosen, terbukti beberapa Award telah diraihnya, yaitu: gelar dosen teladan nomor wahid di fakultas teknik pada tahun 1994, Toyohashi Goodwill Ambassador, Municipal Toyohashi, dari Japan, dan masih banyak lagi. Dengan segudang talenta dan prestasi yang telah dimilikinya. Merupakan bukti kalau lelaki kelahiran Idi Rayeuk, Aceh Timur ini merupakan sosok seorang pemimpin yang profesional.

Hal itu semua, tidak terpungkiri oleh terpilihnya Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, pada 29 Juli 2013, sebagai Rektor Unsyiah periode 2013-2017. dengan perolehan suara terbanyak dalam rapat senat pemilihan rektor, Senin, 29 juli 2013 pekan lalu.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Prof. Dr. Abubakar Hamzah, yang didampingi sekretaris panitia, Sofia, M.Si menyebutkan bahwa rapat senat yang berlangsung di Balai Senat Unsyiah dihadiri oleh 57 orang anggota senat dari jumlah keseluruhan 62 anggota senat. Selain itu, hadir juga Kuasa Hukum Menteri Pendidikan, Prof. Dr. Supriadi Rustad, M.Si, yang juga merupakan Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kuasa menteri memiliki 35% hak suara dari jumlah pemilih yang hadir. Berdasarkan perhitungan, kuasa menteri menggunakan 30,7 kartu suara. Hasil perhitungan suara adalah:

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng                  68,7 Suara
Dr. Hafasnuddin, SE, MBA                           9      Suara
Dr. Tarmizi, M.Sc                                           9      Suara

Sesuai dengan peraturan Mendikbud No 33 tahun 2012 sudah dapat dipastikan bahwa Samsul Rizal akan diangkat sebagai Rektor Unsyiah Periode 2013-2017. Pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala Periode 2013-2017 ini semula dijadwalkan akan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I, namun kemudian dikuasakan kepada Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pemilihan untuk Rektor terpilih ini merupakan tahapan terakhir dari proses pemilihan rektor. Sebagaimana pernah diberitakan sebelumnya, dalam proses penyaringan calon rektor pada rapat senat tanggal 20 Juni 2013 yang lalu, telah terpilih 3 calon rektor yang memperoleh suara terbanyak, yaitu Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng (Fakultas Teknik); Dr. Tarmizi, M.Sc. (Fakultas MIPA), dan Dr. Hafasnuddin, SE., MBA (Fakultas Ekonomi).Ketiga calon ini setelah mendapat persetujuan dari Mendikbud, dipilih dalam rapat senat tanggal 29 Juli. (Aditya)


Samsul Rizal Terpilih Kembali Jadi Rektor Unsyiah

Written By Unknown on Senin, 29 Juli 2013 | 10.17

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, guru besar Fakultas Teknik Unsyiah terpilih sebagai rektor Unsyiah Periode 2013-2017 dengan perolehan suara terbanyak dalam rapat senat pemilihan rektor, Senin, 29 juli 2013.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Prof. Dr. Abubakar Hamzah, yang didampingi sekretaris panitia, Sofia, M.Si menyebutkan bahwa rapat senat yang berlangsung di Balai Senat Unsyiah dihadiri oleh 57 orang anggota senat dari jumlah keseluruhan 62 anggota senat. Selain itu, hadir juga Kuasa Hukum Menteri Pendidikan, Prof. Dr. Supriadi Rustad, M.Si, yang juga merupakan Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kuasa menteri memiliki 35% hak suara dari jumlah pemilih yang hadir. Berdasarkan perhitungan, kuasa menteri menggunakan 30,7 kartu suara. Hasil perhitungan suara adalah:

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng                  68,7 Suara
Dr. Hafasnuddin, SE, MBA                            9      Suara
Dr. Tarmizi, M.Sc                                          9      Suara

Sesuai dengan peraturan Mendikbud No 33 tahun 2012 sudah dapat dipastikan bahwa Samsul Rizal akan diangkat sebagai Rektor Unsyiah Periode 2013-2017. Pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala Periode 2013-2017 ini semula dijadwalkan akan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I, namun kemudian dikuasakan kepada Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.


Pemilihan untuk Rektor terpilih ini merupakan tahapan terakhir dari proses pemilihan rektor. Sebagaimana pernah diberitakan sebelumnya, dalam proses penyaringan calon rektor pada rapat senat tanggal 20 Juni 2013 yang lalu, telah terpilih 3 calon rektor yang memperoleh suara terbanyak, yaitu Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng (Fakultas Teknik); Dr. Tarmizi, M.Sc. (Fakultas MIPA), dan Dr. Hafasnuddin, SE., MBA (Fakultas Ekonomi). Ketiga calon ini setelah mendapat persetujuan dari Mendikbud, dipilih dalam rapat senat tanggal 29 Juli. (*)

STAISES KUTACANE DUDUKI KAMPUS BARU

Written By Unknown on Kamis, 11 Juli 2013 | 00.40

Sekolah Tinggi Agama Islam Sepakat Segenep, disingkat  STAISES adalah satu-satunya perguruan tinggi Islam di Kutacane, Aceh Tenggara. STAISES adalah lembaga pendidikan terdepan dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) di Aceh Tenggara.
Kini, STAISES perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Aceh Tenggra tersebut sudah pindah ke kampus utamanya di desa Biak Muli tepatnya di belakang Markas Koramil Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara.
Sekolah tinggi ini sudah berdiri sejak tahun 2002 sesuai dengan Akte pendirian yayasan Perguruan Tinggi Sepakat Segenep No. 6 Tahun 2002 tanggal 12 Agustus 2002 dengan usaha keras beberapa tokoh pendidri bersama pihak yayasan yang merintis lembaga resmi pendidikan islam ini sehingga akhirnya resmi berdiri Sekolah Tinggi Agama Islam Sepakat Segenep (STAISES) Kutacane.
Dengan surat keputusan Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam Nomor : Dj.II/79/03, tentang pemberiann izin penyelengaraan Pendidikan Islam dan Mu’amalah, dan telah diperpanjang dengan Surat keputusan Dirjen Pendidikan islam Nomor:Dj.I/216C/2006, kemudian SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor : Dj.I/17/2009. Tanggal 15 januari 2009, tentang izin Penyelenggaraan Program study Raudhatul Atfhal (PGRA) S1 dengan surat Koordinator Kopertais wilayah V Aceh Nomor : 4666/ Kopertais/V/2003 tanggal 30 September 2003 sehingga sampai saat ini terus beraktifitas dengan kampus referensif dengan sarana dan prasarana belajar mengajarnya.
Setelah masa jabatan Pengelola Sekolah Tinggi Agama Islam Sepakat Segenep (STAISES) -  Kutacane masa bakti 2006 -2011 berakhir pada hari Sabtu 11/6 lalu bertepatan dengan tanggal 9/Rajab 1432 Hijriah, dilantik pula Badan Pengelola Sekolah Tinggi Agama Islam Sepakat Segenep ( STAISES ) -  Kutacane yang baru masa bakti 2011 -2015 oleh ketuanya Suhardy S.Ag  Dengan dihadiri para Dosen dan perwakilan dari mahasiswa STAISES tersebut.
Selama ini STAISES belajar menggunakan gedung sekolah MTS’N Kutacane, demikian juga mobiler dan lain sebagainya. Perjalanan dari awal berdirinya STAISES Kutacane tersebut sampai dengan beberapa minggu lalu memang masih harus menumpang di gedung MTS’N Kutacane karena pembangunan gedung Perguruan tinggi ini memang dibangun secara bertahaf, mengingat sesuatu dan lain hal.
Suhardy (45) sebagai Ketua Pelaksana Harian STAISES – Kutacane kepada Kabar Aceh, pekan lalu mengakui selama ini dalam mengembangkan STAISES dengan perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan. Dia mengakui masih  banyak kekurangan yang harus kita tutupi selama perjuamngan itu, demi untuk maju dan berkembangnya STAISES ini.
Mempertahankan STAISES kata Suhardy, adalah hal prinsip yang paling dijaga oleh pengelola dan Pengurus selama ini.
“Demi berkembang dan terjaganya syariat islam secara kaffah di tepi perbatasan negeri Aceh ini, dengan kata lain mahasisiwa dan mahasiswi STAISES diharapkan dapat sebagai benteng pertahanan ajaran Islam secara hakiki di negeri sepakat segenep ini”, katanya.
Menurut Suhardy kampus STAISES – kutacane yang baru sekarang ini sedang dipersiapkan dan dilengkapi mobiler dan sarana dengan 16 ruangan.  Mulai bulan Maret nanti, STAISES – Kutacane bertekad akan mandiri dan berdiri sendiri dengan kekuatan yang ada. Sehingga untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan aktivitas selanjutnya di kampus baru tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Dalam perkembangannya,  STAISES Kutacane setiap tahun akademik mengalami peningkatan, hal ini dapat terlihat dari grafik meningkatnya jumlah mahasiswa yang masuk Perguruan Tinggi ini
“Setiap tahunnya jumlah mahasiswa terdaftar sebanyak lebih dari 200 orang dari 3 jurusan yang ada itu. Awalnya pada tahun 2002/2003 jumlah mahasiswa sebanyak 137 orang dan pada tahun 2009 lalu mencapai jumlah 961 orang yang selesai dengan Wisuda sebanyak 534 orang alumni pada saat itu,” jelas Suhardy
Sekolah Tinggi ini masih sedang mendidik lebih dari 800 mahasiswa, dari tiga program Study Stara 1 (S1) yaitu Prorgam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pendidikan Guru Raudatul Athfal (PGRA) dan Jurusan Ekonomi Syariah. Sehingga beberapa waktu lalu pihak pengelola STAISES mengajukan lagi permohonan bantuan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tenggara dan juga kepada Pemerintah provinsi Aceh tetapi belum ada realisasi. “Dana Pendidikan besar, tetapi pemerintah tidak memperhatikan kita” kata Suhardy
Sehubungan dengan hal tersebut Arafik.SH.I (36) Ketua Umum LSM GAKAK (Gerakan Anti Korupsi Alas korvorasion)  Kabupaten Aceh Tenggara dan salah satu alumni STAISES – Kutacane mengharapkan kepada Pemerintah kabupaten Aceh Tenggara, agar tetap memperhatikan dan dapat membantu STAISES ini, sehubungan dengan program yang sekarang sedang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah tersebut melalui Peningkatan program Pendidikan dan Agama.
“Demi kelancaran proses belajar mengajar ke depan dapatlah berjalan baik dan seperti yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya,” kata Arafik
Pembangunan gedung STAISES – Kutacane sampai dengan saat ini sudah terbangun dengan jumlah 16 ruang, dengan pemanfaatannya 12 ruang menjadi ruang belajar dan 4 ruang menjadi kantor Dosen dan Civitas akademik.
Sekolah Tinggi Agama Islam Sepakat Segenep STAISES Kutacane selama ini dengan berbagai kekurangannya, sebagai mitra pemerintah dalam pelaksanaan bidang Pendidikan Agama Islam memikliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan berbasis Islam karena (STAISES) –Kutacane merupakan satu – satunya lembaga tinggi Islam di Kabupaten Aceh Tenggara dan menjadi salah satu ujung tombak pelaksana syariat Islam, dalam Visi dan Misinya Sekolah Tinggi Agama Islam Sepakat Segenep (STAISES) – Kutacane memiliki komitmen yang kuat untuk menciptakan generasi Intelektual Muslim yang mampu menjawab dan membedung berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Umat Islam.
Dalam upaya pengembangan Sekolah tinggi ini, secara global STAISES Kutacane masih dihadapkan pada dua permasalahan Internal dan eksternal. Permasalahan internal berupa minimnya fasilitas yang layak bagi perguruan tinggi yang bermutu, masih kurangnya kwalitas dan kwantitas tenaga pengajar (dosen) yang memenuhi standard Komvetentsi dosen, lemqahnya SDM pengelola menejemen perguruan tinggi sehingga belum mampu bersaing di tingkat Nasional dan Global, kemudian keterbatasan dana untuk pelaksanaan kegiatan mahasiswa juga menambah sederetan masalah yang dihadapi.
Kemudian permasalahan eksternal, berupa kwalitas intelektual lulusan yang belum memenuhi standard nasional maupun global, sehingga belum mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainya yang sudah maju, masih kurangnya pemahaman serta kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Agama Islam, sehingga mereka lebih memeilih kuliah diPerguruan tinggi umum daripada kuliah diPerguruan tinggi agama islam. (Raja Syahnan)

Reka Ullia: “Ingin Jadi Duta Wisata”

Written By Unknown on Kamis, 13 Juni 2013 | 10.45

Reka Ullia adalah salah seorang siswi kelas I Jurusan Pariwisata pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Banda Aceh yang memiliki segudang prestasi. Berbagai prestasi tersebut didapatkannya sejak menimba ilmu di sekolah kejuruan tersebut.
Dari sekian banyaknya siswa-siswi yang bersekolah disana, Reka memang tampil beda dibandingkan dengan siswa-siswi lainnya. Selain sangat menonjol dengan prestasi, ia juga sangat cinta dan perduli terhadap dunia pariwisata.
Reka Ullia, merupakan putri tercinta dari pasangan Adi Susanto dan Hamidah tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang Duta Pariwisata Aceh. Hal tersebut diungkapkannya kepada kabar Aceh dikediaman orang tuanya beberapa waktu yang lalu.
“Saya sangat suka dengan segala hal yang bersifat pariwisata dan ingin menjadi Duta Pariwisata,” ungkap bintang kelas itu.
Selain menyukai pelajaran matematika, bahasa inggris, dan juga pelajaran produktif seperti pramuwisata, tiket domestic, dirinya juga menyukai kerja sama dengan pelanggan serta kolega yang berbeda budaya.
Namun menurutnya, selama menimba ilmu di jurusan pariwisata dirinya juga akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk semua bidang pelajaran di jurusan pariwisata tersebut. Hal itu tidak lain karena dirinya memicu motivasi untuk menggapai cita-cita Duta Pariwisata Aceh.
Menjawab Kabar Aceh seputar kesibukannya sepulang sekolah, Reka mengaku bahwa dirinya tetap melaksanakan rutinitas membantu orang tua. Mulai dari membantu ibunya membersihkan rumah sampai membantu ayahnya menjalankan usaha isi ulang air mineral. Tidak lupa juga, setiap malam ia mengikuti pengajian dan belajar agama, disamping juga menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.
Sepulang sekolah, bantu mama dirumah dan bantu ayah didepot isi ulang sambil baca buku disaat luang,” demikian tutup Reka Ullia. (Aditya)

 
Support : Copyright © 2011. Kabar Aceh - All Rights Reserved
Alamat Redaksi/ Bisnis/ Pemasaran: Jln.Mohd.Taher,Kec.Lueng Bata,Banda Aceh. Telp/Hp: 081360224009