Home » , » SENI DEBUS (TOP DABOEH) DI ACEH

SENI DEBUS (TOP DABOEH) DI ACEH

Written By Kabar Aceh on Jumat, 14 Juni 2013 | 05.28

Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam, kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrim.Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan atau penutupan acara adat.

Atraksi Debus merupakan kesenian beladiri yang dipergunakan yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar   biasa. Misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras dan lain- lain. Beberapa literature dan catatan sejarah menerangkan bahwa kesenian tersebut berawal pada abad ke-16 dan berkembang didaerah Banten pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasunuddin (1532-1570).

Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan kedaerah Banten sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu.

Sementara, literature lainnya menyebutkan bahwa Seni Debus adalah berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin Al-Raniri yang dibawa ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848-1908). Di Aceh sendiri, Debus lebih dikenal dengan Top Daboeh.

Seiring dengan perjalanannya, Seni Debus semakin berkembang dan berkolaborasi dengan Seni Tari dan Suara. Debus itu sendiri biasanya menunjukkan kemampuan manusia yang luar biasa dan seakan-akan diluar kelaziman pada umumnya.

Debus yang dipertontonkan diantaranya menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka, mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau pedang, memasukkan bara api kedalam mulut, menusukkan jarum kawat kelidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tembus tanpa mengeluarkan darah.

Selainitu, Debus juga sering mempertontonkan kemampuan menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh, membakar tubuh dengan api, bergulingan di atas serpihan kaca, menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.

Biasanya, pagelaran Rapa ie tersebut dimainkan oleh beberapa orang pemegang gendang besar (rapa ie), rebana, seruling (serune kale). Upacara dipimpin oleh seorang khalifah yang biasa disebut syech yang biasanya melantunkan syair-syair dan beberapa penari debus yang memainkan senjata tajam seiring dengan dentuman gendang.***

Sanggar Rapa ie Tuha Lamreung


Salah satu komunitas pekerja seni yang selama ini intens menjaga dan mengembangkan warisan budaya kesenian Debus (Top Daboeh) di Aceh adalah Sanggar Rapa ie Tuha Lamreung. Sanggar tersebut telah berdiri sejak 1940-an dan dibentuk oleh masyarakat Lamreung Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Bahkan, diyakini bahwa Sanggar Rapa ie tersebut juga turut diprakarsai oleh seorang pahlawan nasional yang berasal dari daerah tersebut yang bernama T. Nyak  Arief. Adapun riwayat pembentukan Sanggar Rapa ie Tuha Lamreung itu sendiri awalnya untuk menyemangati para pejuang-pejuang Aceh dalam  melawan penjajahan Belanda.

Namun sebenarnya perkumpulan ini belum memiliki nama pada awal pembentukannya, sampai tahun 2009 masyarakat lamreung terus melestarikan adat dan khazanah budaya, maka pada awal tahun 2009 mereka bermusyawarah dengan tuha peut gampong dan akhirnya member nama perkumpulan tersebut dengan nama Sanggar Rapa ie Tuha Lamreung.

Hal tersebut diungkap kan oleh Isafuddin Idris yang merupakan sekretaris Sanggar Rapa ie Tuha Lamreung. Menurutnya, sanggar tersebut berdiri pada tanggal 04 Mai 2009 yang  beralamatkan di JalanT. Nyak Arief desa Lamreung, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

Sanggar tersebut adalah tempat bernaungnya individu-individu yang perduli untuk terus menjaga dan berkontribusi aktif dalam mengembangkan kesenian yang sudah ada sejak zaman dulu tersebut. Diharapkan, kesenian yang mulai sulit dijumpai tersebut akan lestari dan terpelihara nantinya.

Lebih jauh, Isafuddin mengatakan bahwa sanggar seni Rapa ie Tuha sudah pernah terlibat dibeberapa kegiatan acara, diantaranya festival tradisikreasi se-Aceh 2010 di Taman Budaya Kota Banda Aceh, pagelaran seni aktivatif Taman Budaya 2012, festival Iboih 2012 di Sabang dan dibeberapa tempat lainnya.

“Kami juga membuka pelatihan Rapaie debus dan tarian secara gratis kepada siapa saja masyarakat yang ingin ikut berlatih dan bersama-sama berkontribusi aktif dalam mengembangkan kesenian yang sudah ada dari zaman dahulu ini. Namun walaupun gratis, tapi kami mempunyai beberapa peraturan sanggar yang memang harus ditaati,”demikian ungkap Idris.

Sanggar Rapa ie Tuha Lamreung tersebut beranggotakan anak-anak sampai remaja mulai dari umur 11 tahun-17 tahun dan juga para pembina terdiri dari beberapa orang tua, juga para pelatih yang sudah profesional dibidangnya masing-masing.

Menjawab Kabar Aceh tentang tanggapan orang tua yang anaknya tergabung dalam sanggar tersebut Idris menerangkan bahwa para orang tua menyambut positif hal tersebut. Apalagi menanamkan jiwa seni sejak mereka masih anak-anak, diharapkan nilai-nilai seni dan khasanah budaya sudah tertanam sejak dini.

“Alhamdulilah sampai saat ini para orang tua anggota kita men-support positive kegiatan ini, karena mereka memang menyadari bahwa ini merupakan kesenian adat kita sebagai bangsa Aceh,” demikian ujar Idris yang mana anaknya juga ikut sebagai anggota sanggar.

Menyinggung tentang waktu pelaksanaan latihan, menurutnya pihak pengurus sudah mengatur waktu sedemikian rupa sehingga proses pelatihan tidak mempengaruhi jadwal belajar sekolah, belajar dan pengajian anak-anak. Pelatihan disanggar ini dimulai setiap malam Kamis pelatihan Rapa ie Debus oleh para remaja, Minggu sore pelatihan Rapa ie Debus untuk anak-anak, dan hari Jumat-Sabtu sore pelatihan tarian.

“Kami juga selalu mengadakan kegiatan festival tradisi dan kreasi di setiap dua tahun, karena ini sudah merupakan kalender kegiatan aktif sanggar kita guna untuk mengingatkan para generasi muda bahwa Aceh sangat kaya akan seni-nya, dan juga kita selaku masyarakat Aceh harus terus menjaga dan mengembangkan kesenian. Apalagi khususnya seni Rapa ie Dabus (Top Daboeh) yang sudah mulai hilang tertelan oleh zaman,” demikian tambahnya.

Idris juga meminta kepada para pemerintahan khususnya dinas terkait agar bisa mensupport dan memperhatikan sanggar Rapa ie Tuha Lamreung tersebut yang telah lama ikut aktif dalam kesinambungan mengembangkan kesenian rapa ie debus, dan juga harapnya agar pemerintahan bisa memberikan sedikit ruang untuk para seniman didalam sanggar ini menunjukan aksi kebolehannya dalam bermain Rapa ie Debus.

“Kepada dinas terkait khususnya yang membidangi kebudayaan dan pariwisata, kami berharap agar lebih memperhatikan kesenian dan budaya yang ada di Aceh, karena selama ini Aceh sangat terkenal akan kekayaan seni dan budayanya hal itu diakui oleh masyarakat luar Aceh juga bahkan sampai luar negeri,” demikian pungkas Isafuddin Idris. Semoga…(Aditya)


Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Kabar Aceh - All Rights Reserved
Alamat Redaksi/ Bisnis/ Pemasaran: Jln.Mohd.Taher,Kec.Lueng Bata,Banda Aceh. Telp/Hp: 081360224009